Pengantar iptek

BAB I Pendahuluan Manusia adalah mahluk paling sempurna ciptaan Allah SWT diantara mahluk lain. Dikarenakan manusia diberikan kelebihan akal pikiran oleh-Nya. Bayangkan saja ketika kemampuan manusia berkembang dari zaman kezaman. Oleh karena itu, disinilah perlunya materi Pengantar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sehingga diharapkan nantinya kita dapat mengetahui perkembangan peradaban manusia, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, proses berpikir dan etika. Meteri Pengantar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini terdiri dari delapan bagian materi : * Bagian pertama, yakni Etika. Materi ini akan membahas pengertian dasar etika. Kemudian membandingkan pengertian etika dengan etiket, moral, norma, hukum dan agama. * Bagian kedua, yakni Logika. Materi ini menjelaskan bagaimana proses berfikir, proses berfikir kretif dan peranan logika dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknlogi, dan pemecahan masalah serta pegambilan keputusan * Bagian ketiga, Masyarakat Awal. Diharapkan dari materi ini kita bisa mengetahui filosofi manusia dalam bermasyarakat, bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan dan sifat kehidupan manusia * Bagian keempat, Manusia dan Lingkungan. Pada bagian ini akan membahas peran manusia sebagai khalifah Allah di bumi, serta bagaimana peran serta manusia tersebut terhadap lingkungan. * Bagian kelima, Manusia dan Trauma. Bab ini membahas tentang perilaku manusia dalam mencari atau mengeksplorasi sumber daya alam dan mempergunakan energi. Selain itu pokok bahasan ini akan memberikan contoh penyalahgunaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, sehingga menimbulkan trauma bagi manusia itu sendiri. * Bagian keenam, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, pada bagian ini disampaikan definisi ilmu dan teknologi, metode dan sikap/perilaku ilmiah (scientist attitude), hubungan ilmu teknologi, seni dan agama. * Bagian ketujuh, Teknologi dan dan Kebudayaan. Hubungan teknologi, pembangunan dan kebudayaan. Selain itu disampaikan pula bemtuk masyarakat yang ada dalam zaman serba elektronik ini, perubahan nilai (volues) paa masyarakat. * Bagian kedelapan, Kebijakan Strategis Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pada materi terakhir ini dititikberatkan pada pengelolaan kekayaan intelektual. Diharapkan setelah menguasai materi-materi tersebut, kita dapat memperoleh penjelasan tentang values dan etika dalam penempatan dirinya sebagai “Agent of Changes”. Sehinga segala tindakan yang dilakukan dalam rangka melakukan perubahan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya pada seluruh mahluk dibumi ini, khususnya bagi manusia itu sendiri

BAB II

ETIKA

2.1. Pendahuluan
2.2. Perbedaan Pengertian Etika, Etiket , Moral, Hukum dan Agama
2.3. Peran Etika dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2.4. Etika Akademisi

2.1. Pendahuluan

Sifat dasar etika adalah sifat kritis, etika bertugas :

  • Untuk mempersoalkan norma yang dianggap berlaku. Diselidikinya apakah dasar suatu norma itu dan apakah dasar itu membenarkan ketaatan yang dituntut oleh norma itu terhadap norma yang dapat berlaku
  • Etika mengajukan pertanyaan tentang legitimasinya, artinya norma yang tidak dapat mempertahankan diri dari pertanyaan kritis dengan sendirinya akan kehilangan haknya
  • Etika mempersolakan pula hak setiap lembaga seperti orangtua, sekolah, negara dan agama untuk memberikan perintah atau larangan yang harus ditaati
  • Etika dapat mengantarkan manusia, pada sifat kritis dan rasional
  • Etika memberikan bekal kepada manusia untuk mengambil sikap yang rasional terhadap semua norma
  • Etika menjadi alat pemikiran yang rasional dan bertanggung jawab bagi seorang ahli dan bagi siapa saja yang tidak mau diombang ambingkan oleh norma-norma yang ada.

Secara etimologi kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu “Ethos” yang berarti wtak kesusilaan atau adat. Kata ini identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata latin “mos” yang dalam bentuk jamahnya Mores yang berarti juga Adat atau cara hidup.
Etika dan Moral memiliki arti yang sama, namun dalam pemakaian sehari-harinya ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas biasanya dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian system nilai-nilai yang ada.
Menurut Ir Poedjawiyatna, etika merupakan cabang dari filsafat etika mencari ukuran baik buruknya bagi tingkah laku manusia. Etika hendak mencari, tindakan manuisia yang manakah yang baik.
Sedangkan memurut Austin Fogothetu etikika berhubungan dengan seluruh ilmu pengetahuan tentang manusia dan masyarakat sebagai : antropologi, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik dan ilmu hukum. Perbedaanya terletak pada aspek keharusan (ought). Pebedaan dengan teologi moral, karena tidak bersandarkan padakaidah-kaidah keagamaan, tetapi terbatas pada pengetahuan yang dilahirkan tenaga manusia sendiri.

2.2. Perbedaan Pengertian Etika, Etiket , Moral, Hukum dan Agama

Perbedaan Etika dan Etiket :
Seringkali dua istilah tersebut disamakan artinya, padahal perbedaan antara keduanya sangat mendasar. Dari asal katanya saja berbeda, yakni Ethics dan Ethiquetle. Etika berarti moral sedangkan Eiket berarti sopan santun.
Namun meskipun berbeda, ada persamaan antara keduanya, yaitu :

  • Keduanya menyangkut perilaku manusia
  • Etika dan eiket mengatur perilkau manusia secara normative, artinya memberi norma bagi perilku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

Perbedaannya yang penting antara lain yaitu :

  • Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Diantara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu.
  • Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan. Etika menyangkut pilihan yaitu apakah perbuatan boleh dilakukan atau tidak.
  • Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada saksi mata, maka maka etiket tidak berlaku.
  • Etika selalu berlaku meskipun tidak ada saksi mata, tidak tergantung pada ada dan tidaknya seseorang.
  • Etiket bersifat relatif artinya yang dianggap tidak sopan dala suatu kebudayaan, isa saja diangap sopan dalam kebudayaan lain.
  • Etika jauh lebih bersifat absolut. Prinsip-prinsipnya tidak dapat ditawar lagi.
  • Etiket hanya memadang mausiadari segi lahiriah saja.
    Etika menyangkutmanusia dari segi dalam. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

Perbedaan Moral dan Hukum :
Sebenarnya ataa keduanya terdapat hubungan yang cukup erat. Karena anatara satu dengan yang lain saling mempegaruhi dan saling membutuhkan. Kualitas hukum ditentukan oleh moralnya. Karena itu hukum harus dinilai/diukur dengan norma moral. Undang-undang moral tidak dapat diganti apabila dalam suatu masyarakat kesadaran moralnya mencapai tahap cukup matang. Secaliknya moral pun membutuhkan hukum, moral akan mengambang saja apabil atidak dikukuhkan, diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat. Dengan demikian hukum dapat meningkatkan dampak social moralitas.
Walaupun begitu tetap saja antara Moral dan Hukum harus dibedakan. Perbedaan tersebut antara lain :

  • Hukum bersifat obyektif karena hukum dituliskan dan disusun dalam kitab undang-undang. Maka hkum lebih memiliki kepastian yang lebih besar.
  • Norma bersifat subyektif dan akibatnya seringkali diganggu oleh pertanyaan atau diskusi yang menginginkan kejelasan tentang etis dan tidaknya.
  • Hukum hanya membatasi ruang lingkupnya pada tingkah laku lahiriah manusia saja.
  • Sedangkan moralitas menyangkut perilaku batin seseorang.
  • Sanksi hukum bisanya dapat dipakasakan.
  • Sedangkan sanksi moral satu-satunya adalah pada kenyataan bahwa hati nuraninya akan merasa tidak tenang.
  • Sanksi hukum pada dasarnya didasarkan pada kehendak masyarakat.
  • Sedangkan moralitas tidak akan dapat diubah oleh masyarakat

Perbedaan Etika dan Agama :
Etika mendukung keberadaan Agama, dimana etika sanggup membantu manusia dalam menggunakan akal pikiran untuk memecahkan masalah.
Perbedaan antara etika dan ajaran moral agama yakni etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional. Sedangkan Agama menuntut seseorang untuk mendasarkan diri pada wahtu Tuhan dan ajaran agama.

Etika dan Moral
Etika lebih condong kearah ilmu tentang baik atau buruk. Selain itu etika lebih sering dikenal sebagai kode etik.
Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan atau nilai yang berkenaan dengan baik buruk.
Dua kaidah dasar moral adalah :

  • Kaidah Sikap Baik. Pada dasarnya kita mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap baik itu harus dinyatakann dalam bentuk yang kongkret, tergantung dari apa yang baik dalam situasi kongkret itu.
  • Kaidah Keadilan. Prinsip keadilan adalah kesamaan yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Kesamaan beban yang terpakai harus dipikulkan harus sama, yang tentu saja disesuaikan dengan kadar angoota masing-masing.

2.3. Peran Etika dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berlansung sangat cepat. Dengan pekembangan tersebut diharapkan akan dapat mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup manusia. Untuk menjadi manusia secara utuh. Maka tidak cukup dengan mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, manusia juga harus menghayati secara mendalam kode etik ilmu, teknologi dan kehidupan. Apabila manusia sudah jauh dari nalai-nilai, maka kehidupan ini akan terasa kering dan hampa. Oleh karena ilmu dan teknologi yang dikembangkan oleh manusia harus tidak mengabaikan nilai-nilai kehidupan dan keluhuran.
Penilaian seorang ilmuwan yang mungkin salah dan menyimpang dari norma, seyokyanya dapat digantikan oleh suatu etika yang dapat menjamin adanya suatu tanggung jawab bersama, yakni pihak pemerintah, masyarakat serta ilmuwan itu sendiri.

2.4. Etika Akademisi
2.4.1. Kejujuran dalam etika profesi

Kejujuran merupakan hal yang sangat mendasar dari manusia yang akan sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Kejujran pasti diajarkan oleh seluruh agama melalui kitab-kitabnya. Kejujuran dan keadilan merupakan kunci pokok dalam berbuat, bekerja dan berinteraksi dengan lingkungan. Hal ini sangat disadari mengingat suatu hasil kerja bila tidak dilandasi dengan kejujuran, merupakan suatu awal yang buruk dan malapetaka

2.4.2. Taksonomi Ketidakjujuran
a. Bohong
Seseorang dikatakan berbohong apabila dia mengetahui informasi sebagaimana mestinya, tetapi tidak menatakan demikian. Atau bila terjadi suatu kesalahan yang dia ketahui, tetapi dia tidak mau melakukan upaya untuk menyampaikan kebenaran atau pembenaran.
b. Kecurangan Sengaja

Hal ini terjadi, misalnya bila pada kondisi melamar pekerjaan, dan dia menyampaikan sesuatu yang tidak mempunyai pengalaman. Namun masih saja dilakukan agar dapat memperoleh pekerjaan.
c. Mempergunakan data Orang Lain / Klien
Seringkali seorang ahli dengan sengaja mempergunakan data/ informasi yang nyata-nyata bukan hasil karyanya, meskipun mungkin data / informasi tersebut didapat dari mantan kliennya.
d. Menahan Informasi

Informasi yang sebenarnya harus disampaikan malah disimpan atau tidak disampaikan. Misalnnya seorang atasan tidak memberi informasi pada bawahan dan sebaliknya .
e. Tidak Menyebarkan Informasi
Tujuan pokok seorang ahli berada di tengah-tengah masyarakat adalah untuk melindungi dan menjaga keamanan serta kesejahteraan masyarakat. Untu iitu diperlukan penyebaran informasi kepada masyarakat yang memang membutuhkan informasi tersebut, bukan mallah tidak menyebarkannya, apalagi bila informasi itu sangat berharga dan mendedsak bagi masyarakat.

2.4.3. Penyalahgunaan Penggunaan Data :

Dalam istilah keilmuuan penyalahgunaan ini dibagi menjadi empat macam :
a. Trimming
Juga dikenal dengan sebutan smoothing, yakni memperhalus data data sehingga tampilannya nampak lebih akurat dan baik.
b. Cooking
Merupakan usaha membuat / merekayasa data sedemikian rupa sehingga menjadi “Fit – Cook” (sesuai) dengan suatu Theorema/toeri yang sudah ada. Sehingga terlihat kebearannya.
c. Forging
Pengertian sederhana forging adalah merekayasa data seola-olah telah melakukan eksperimen. Data yang ada sebagian atau seluruhnya dibuat seolah-olah didapat dari hasil eksperimen.
d. Plagiat
Kasus inilah yang sering muculdi kalangan masyarakat, dimana seseorang mengambil, memakai data/hasil karya orang lain tanpa seizin orang yang membuatnya.


2.4.4. Permasalahan dalam Publikasi

Dalam publikasi hasil karya biasanya terjadi pelanggaran-pelanggaran yang tidak mengindahkan etika, misalnya :
a. Plagiat,
sudah dijelaskan diatas
b. Referencing
Kecurangan berupa penukilan dalam penulisan karya ilmiah tapi tidak mencantumkan nama pengarang atau sumber penukilan itu diambil. Hakl tersebut sangat bertentangan dengan etika.
c. Authorship dan Kontrtribusi
Permasalahan muncul pada saat menetapkan siapa yang akan dicantumkan dalam penulis hasil penelitian baik dalam report ataupun paper-paper. Problem ini nmakin nampak sewaktu penelitian dikerjakan oleh grup dan diantara mereka ada yang tidak aktif, pertanyaan yang muncul apakah orang tersebut pantas untuk dicantumkan namanya dalam karya itu.

BAB III

LOGIKA

3.1. Logika Sebagai Proses Berfikir
3.2. Peranan Logika dalam IPTEK
3.3. Proses Berfikir Kreatif
3.4. Pengambilan Keputusan dan Pemecahan Masalah

3.1. Logika Sebagai Proses Berfikir

Logika identik dengan masuk akal dan penalaran. Penalaran adalah salah satu bentuk pemikiran. Pemikiran adalah pengetahuan tak langsung yang didasarkan pada pernyataan langsung.pemikiran mungkin benar dan mungkin juga tak benar.

Definisi Logika
Definisi logika sangat sederhana yaitu ilmu yang memberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti agar dapat berfikir valid menurut aturan yang berlaku

Faedah Logika
Pelajaran logika menimbulkan kesadaran untuk menggunakan prinsip-prinsip untuk berfikir secara sistematis.
Faedah tersebut antara lain :

  • Logika menyatakan, menjelaskan dan emmpergunakan prinsip-prinsip abstrtak yang dapat digunakan dalam semua lapangan ilmu pengetahuan
  • Menambah daya berfikir abstrak yang menimbulkan sikap intelektual
  • Mencegah agar tidak tersesat darisegala sexsuatu yang kita peroleh berdasarkan authority.

Pengertian
Untuk menunjukkan sebuah pengertian harus diganti dengan lambing, lambing yang dimaksud adalah bahasa yang mempunyai sifat-sifat yang dilambangkan yaitu “PEGERTIAN”. Pengertian biasanya disebut TERM. Term adalah kata atau kesatuan kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam Proposisi Logika. Pada umumnya term mempunyai dua fungsi yaitu denotasi dan konotasi.
Denotasi adalah nama atau tanda dari suatu benda atau sejumlah benda yang ditunjukkan oleh trem. Sedangkan konotasi adalah karakteristik dari suatu benda atau sejumlah benda yang ditunjukkan oleh sebuah term, sehingga term tidak lagi dapat digunakan untuk benda-benda lain.
Hubungan timbal balik antara denotasi dan konotasi ini hanya akan valid jika penambahan dan pengurangan atributnya akan menimbulkan term baru. Sebagai contoh, penmuan benua amerika oleh Christopus Clumbus seakan akan menambah denotasi term “benua” padahal sebenarnya tidaklah merupakan penambahan deenotasi terhadap term “benua”, karena memang tidak mangakibatkna pengurangan konotasi term benua.

Porposisi
Proposisi mempunyai tiga bagian, yakni Subjek, Predikat dan KOPULA yaitu tanda yang menyatakan ubungan antara subjek dan objek

Jenis Proposisi
Berdasarkan bentuknya proposisi ada tiga macam :
1.   Proposisi Kategorik

Yaitu proposisi yang mengandung pernyataan tanpa adanya syarat. Dalam proposisi ini minimal terdiri dari 1 subjek, 1 predikat, 1 kopula dan satu quantifier. Dimana quantifier adalah kata yang menunjukan banyaknya satuan yang diikat oleh term subjek.
Contoh sederhana : Semua manusia adalah ciptaan Allah
Semu = quantifier
Manusia = term subjek
Adalah = kopula
Ciptaan Allah = term predikat
Quantifier dapat menunjukkan jenis Proposisi.
· Proposisi Universal, quantifiernya menunjukkan permasalahan yang universal
Contoh : semua tanaman membutuhkan air
· Proposisi Partikular, quantifiernya menunjukkan permasalahan yang particular
Contoh : sebagian manusia dapat menerima pendidikan tinggi
· Proposisi Singular, quantifiernya menunjukkan permasalahan yang singular
Contoh : seorang yang bernama Hasan adalah seorang guru.

Sedangkan kopula dapat menunjukkan kualitas proposisi
· Proposisi Universal positif, misalnya : semua benda hidup pasti akan mati
Kopulanya mengakui hubungan sebjek dan predikatnya secara keseluruhan (dilambangkan dengan huruf A)
· Proposisi Universal negatif, misalnya : semua petanii bukan orang rajin
Kopulanya mengingkari hubungan sebjek dan predikatnya secara keseluruhan (dilambangkan dengan huruf E )
· Proposisi Partikukar positif, misalnya : sebagian sarjana adalah orang pandai
Kopulanya mengakui hubungan sebjek dan predikatnya secara sebagian saja (dilambangkan dengan huruf I)
· Proposisi Partikukar negatif, misalnya : beberapa pelajar tidak masuk sekolah
Kopulanya mengingkari hubungan sebjek dan predikatnya secara keseluruhan (dilambangkan dengan huruf O)
· Proposisi Singular positif, misalnya : Dado seorang mahasiswa
Kopulanya mengakui hubungan sebjek dan predikatnya secara keseluruhan (dilambangkan dengan huruf A)
· Proposisi Singular negatif, misalnya : iwan dan adhi tidak pernah belajar mengaji

Kopulanya mengingkari hubungan sebjek dan predikatnya secara keseluruhan (dilambangkan dengan huruf E)
Selain itu juga dikenal istilah subjek atau objek tertebar (distributed) dimana ia melingkupi seluruh denotasinya dan tak tertebar (undistributed) bila hanya menyebut sebagian denotasinya.
Sebagai contoh misalnya proposisi universal positif; “semua kera adalah mamalia”. Subjek kalimat ini menunjukkan keseluruhan denotasinya, yaitu untuk semua jenis kera. Maka subjek termasuk tertebar. Sedangkan predikatnya tak tertebar karena predikat hanya menerangkan kera saja. Padahal banyak contoh hewan yang digolongkan kedalam mamalia. Setelah kita menganalisa dan mencoba hal yang sama pada masing-masing jenis proposisi didapat hasil

Proposisi

Subjek

Predikat

A

Tertebar

Tak Tertebar

I

Tak Tertebar

Tak Tertebar

E

Tertebar

Tertebar

O

Tak Tertebar

Tertebar

2. Proposisi Hipotetik

Perbedaan sangat jelas antara Kategorik dengan Hipotetik. Pada Hipotetik dipengaruhi oleh syarat dan kopulanya sekarang menghubungkan antara dua buah pernyataan. Bentuk Proposisi Hipotetik :
· Bila P adalah Q maka P adalah R
Contoh : Bila Dudut rajin bekerja ia akan berpenghasilan tinggi
· Bila P adalah Q maka R adalah S
Contoh : Bila hari hujan maka kebun akan basah
Hubungan sebab akibat dalam proposisi Hipotetik biisa berupa hubungan kebiasaan, misalnya “Apabila Aku lulus, maka ayah akan memberiku hadiah”. Atau bisa juga berupa hubungan keharusan, misalnya “Apabila matahari msudah terbenam, maka waktu sholat maghrib pun tiba.”

3. Proposisi Disjungtif

Hampir mirip dengan Hipotetik, perbedaannya adalah bahwa Disjujngtif lebih dititikberatkan pada penghubungan antara dua buah alternatif. Bentuk Proposisi Disjungtif ada dua macam :
· Proposisi Disjungtif Sempurna (P mungkin Q mungkin (non Q))
Contoh : Dhana bercelana hitam atau
· Proposisi Disjungtif Tak Sempurna (P mungkin Q mungkin R)
Contoh : kita pergi berbelanja atau menonton film

Penalaran

Yaitu proses berfikir yang bertolak dari pengamatan indera atau observasi empirik yang menghasilkan sejumlah pengertian dan proposisi sekaligus. Penalaran erat kaitannya dengan penyimpulan, argumen dan bukti. Penyimpulamn dalam arti yang sebenarnya tidak mencakup aktivitas menemukan proposisi-proposisi disusun dalam premis., akan tetapi hanya memakai hubungan proposisi-proposisi dalam premis dan menentukan konklusinya.
Jika penalaran itu aktivitas pikiran yang abstrak, maka argumen lambangnya berbentuk bahasa atau bentuk-bentuk lambing lainnya. Jadi jika kata lambangny apengertian, kalimat lambangnya proposisi, maka argumen lambangnya penalaran. Akhirnya yang disebu bukti itu adalah argumen yang berhasil menentukan kebenaran konklusi premis.

Logika Formal

Dalam bentuk penalaran, pengetahuan yang menjadi dasar konklusi disebut dengan premis, jadi semua proposisi didalam premis harus benar. Aktivitas penalaran juga meliputi penyusun proposisi-proposisi tersebut menjadi premis yang dijadikan dasar penyimpulan. Jika susunan premis tidak tepat, maka tidak dapat dijadikan pangkal untuk menarik kesimpulan yang benar. Misalkan :

“Semua pegawai negeri adalah penerima gaji” (benar)
“Semua pegawai swasta adalah penerima gaji” (benar)
“Jadi pegawai negeri adalah swasta” (salah)

Sedangkan contoh yang tepat adalah sebagai berikut :

“Semua pencuri adalah penjahat (benar)
“Si Kampret adalah pencuri” (benar)
“Si Kampret adalah penjahat” (benar)

Dari contoh diatas didapat rumus :

“Semua pencuri adalah penjahat (benar)Semua “a” adalah “c”
Semua “b” adalah “a”
jadi “b” adalah “c”

Hukum Penyimpulan

Hubungan kebenaran antara premis dan konklusi dapat di rumuskan sebagai berikut :
1. Apabila premisnya benar, konklusi penalaran adalah benar
2. Apabila konklusi penalarannya salah, maka premisnya juga salah
3. Apabila premisnya salah, konklusi penalaran dapat benar dapat salah
4. Apabila konklusinya benar, premis penalarannya bias benar bias salah
Jika bentuk penalaran itu tidak tepat disebut penalaran yang tidak shahih. Penalaran yang kedua proposisi premisnya benar dan konklusinya salah disebut “kesesatan”. Berikut beberapa kesesatan akibat bahasa :

  • Kesesatan akibat Aksen atau Tekanan
    Dalam pengucapan kata biasanya terdapat pengucapan yang diberikan tekanan sehingga menimbulkan perbedaan arti. Perbedaan arti tersebut menimbulkan kesesatan.
    Contoh : Tiap pagi pasukan melakukan apel
    Apel itu buah
    Jadi setiap pagi pasukan melakukan buah
  • Kesesatan karena Term Ekuivok
    Terjadi kesesatan bila dalam satu penalaran terjadi pengertian arti dari sebuah term yang sama.
    Contoh : Sifat abadi adalah sifat Ilahi
    Tono adalah termasuk mahasiswa abadi
    Jadi Tono adalah termasuk mahasiswa yang bersifat Ilahi
  • Kesesatan karena Arti Kiasan
    Kesesatan bias uga terjadi apabila penyamaan arti antara makna sesungguhnya dengan makna kiasan.
  • Kesesatan karena Amfiboli
    Amfiboli terjadi jika konstruksi sebuah kalimat sedemikian rupa, sehingga artinya mejadi bercabang.
    Contoh : Mahasiswa yang duduk diatas meja yang paling belakang
    (Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang paling belakang, mahasiswa atau meja ?

3.2. Peranan Logika dalam IPTEK

  • Logika mengantarkan manusia untuk berdaya abstraksi
    Hal ini erat kaitanya dengan alam pikiran manusia. Alam pikiran manusia berkembang menurut dua hal :
    · Perkembangan alam pikiran manusia sejak zaman purbakala hingga saat ini.
    · Perkembanagn alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya
  • Logika mengarahkan manusia berfikir yang konstruktif san benar
    Manusia diarahkan untuk berfkir secara labih konstruktif dan benar. Hal ini dapat dilihat dari proses pengambilan keputusan dari premis-premis yang ada atau penarikan kesimpulan secara deduktif dengan mengunakan pola piker yang disebut selogisme atau pola-pola lain.
  • Logika mengantarkan manusia untuk menyelesaikan masalah secara konstruktif dan benar
    Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu, kemudian keingintahuan itu dilaksanakan dengan melakukan pengamatan dan percobaan serta penalaran. Percobaan bertujuan menimbulkan gejala dalam lingkungan yang terkendali. Data yang dikumpulkan selanjutnya akan dianalisa dengan metode ilmiah tertentu untuk memperoleh kesimpulan yang logis, yang dapat diterima dengan akal sehat.

3.3. Proses Berfikir Kreatif

Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil hasil yang sifatnya :

  • Inovatif : menarik, baru, aneh dan mngejutkan
  • Useful : berguna, lebih enak, lebih praktis, mendatangkan hasil lebih baik/banyak.
  • Understandable : dapat dimengerti, hasil yang yang sama dimengerti dan dapat dibuat dilain waktu

Pentingnya kreativitas
Mennurut Utami Munandar (1985) pentingnya kreativitas adalah :

  • Karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya dan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia.
  • Dapat memberikan kepuasan kepada individu
  • Bukan tidak mungkin kreativitas bisa meningkatkan kualitas hidup. Karena sudah terbukti bahwa berkat sumbangan ide-ide
  • Kreatif sangat mempengaruhi kejayaan dan esejahtraan masyarakat dan negara.

Tahapan proses kreatif
Menurut Wallas, ada empat tahapan proses kreatif yaitu :

  • Persiapan, meletakkan dasar, mempelajari latar belakang perkara, seluk beluk dan problematikanya, mencoba memikirkan berbagai kemungkinan pemecahan terhadap masalah yang dihadapinya
  • Inkubasi, proses pemecahan masalah dierami dalam alam prasada, individu seakan-akan melupakannya, ini dapat berlangsung berhari-hari atau beberapa jam sampai timbul inspirasi atau gagasan untuk memecahkan masalah
  • Iluminasi, gagasan muncul untuk memecahkan masalah “Eureka”. Biasanya ditandai dengan ucapan “Now I see it”, “o iya”, atau “AHA”
  • Verifikasi, gagasan yang muncul tersebut dievaluasi secara kritis dan dihadapkan secara realitas. Diuji untuk dipertanggungjawabkan

Pemahaman kreativitas perlu dilengkapi dengan pembahasan terhadap orangnya yaitu apa ciri-ciri orang kreatif itu. Ciri kognitif orang yang kratif adalah ;

  • Kelancaran atau kelincahan mental, yakni kemampuan untuk berfikir dari satu ide ke segala arah (divergen) mencari jawaban yang berbeda, yang mungkin dan kemampuan untuk berfikir dari segala arah (konvergen)
  • Fleksibilitas konseptual, kemampuan untuk secara spontan mengganti cara memandang atau pendekatan kerja yang tidak jalan, luwes, sesuai dengan tuntutan dan kemungkinan yan ada
  • Orisinalitas, kemamuan untuk menelorkan ide, gagasan, yang bahkan mengejutkan
  • Elaborasi, yakni lebih menyukai komplekitas daripada simplisitas, karena lebih menyukai tantangan

3.4. Pengambilan Keputusan dan Pemecahan Masalah

Tahapan-tahapan yang pernah dialami manusia dalam pemecahan masalah

  • Kebetulan. Pemecahan masalah didapat melaui proses ketidaksengajaan
  • Trial and Error, menggunakan metode yang berbeda sampai mendapat pemecahannya.
  • Spekulasi, hampir sama dengan trial and error hanya saja spekulasi lebih sistematis.
  • Berdasar Pengalaman, pengalaman yang telah dimiliki dijadikan sebagai tolak ukur analogi untuk memprediksi peristiwa yang akan dating.
  • Penyelidikan Ilmiah, dugaan yang bersumber pada data

Elemen-elemen pengambilan keputusan :

  • Model, adalah penggambaran dari suatu masalah secara kwantitatif
  • Kriteria, tujuan yang hendak dicapai dari pengambilan keputusan
  • Pembatas, factor tambahan yang harus diperhatikan dalam memecahkan suatu masalah
  • Optimasi, jalan pemecahan yang terbaik

BAB IV

MASYARAKAT AWAL

4.1. Filsafat Manusia Bermasyarakat
4.2. Manusia Hidup dengan Sifat-sifat Kehidupan dan Peradaban
4.3. Peradaban dari Jaman ke Jaman Akibat Perkembangan IPTEK

4.1. Filsafat Manusia Bermasyarakat

Manusia merupakan mahluk yang sempurna yangdiciptakan oleh Allah. Selain itu manusia juga disebut sebagai mahluk social yang bagaimanapun hebatnya tetap saja membutuhkan orang lain. Manusia dalam kelangsungan hidupnya mempunyai hebungan timbal balik dalam melaksanakan aktifitasnya sebagai manusia ia mempengaruhi lingkungannya, dan sebaliknya lingkungan juga mempengaruhi manusia.
Manusia adalah mahluk yang harus hidup bermasyarakat untuk kelangsungan hidupnya, mengembangkan kepribadiannya, dapat membudaya, dapat mengembangkan sifat-sifat.

4.2. Manusia Hidup dengan Sifat-sifat Kehidupan dan Peradaban

Stadium pioner manusia meliputi suatu kehidupan food gathering, hunting dan fishing. Ilmuwan DANSEREAU membagi menjadi enam tingkatan yaitu :

  • Antropasere I, Gatherig, kegiatan penghijauan yang terdiri dari usaha mengumpulkan makanan dari alam
  • Antropasere II, Hunting and fishing, dengan kegiatan berupa berburu dan menangkap ikan
    Pada stadium I dan II, lingkungan perilaku masyarakatnya relatif terbatas. Masih belum terlihat adanya gerak-gerik yang menggunakan alat transportasi. Yang terlihat hanya perlatan sederhana dari bamboo untuk menangkap ikan. Selain itu tenaga kerja juga masih terbatas karena memang populasinya masih sangat rendah. Oleh karena itu keseimbangan alam juga masih sangat terjaga.
  • Antropasere III, Herding atau lebih dikenal dengan mengembala
    Ciri utama kehidupan menggembala meliputi kegiatan penghidupan yang terdiri dari memelihara, dan membiakkan hewan-hewan tertentu, menghasilkan produk-produk, membarter. Masyarakat pengembala telah mampu memanfaatkan suatu lahan yang semula tidak produktif. Dengan teknik berpindah-pindah, wilayah penunjang kehidupan ternak sangat besar, sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan oleh petani yang bermukim tetap atau yang hidup didekat lahan pertanian. Disamping itu usaha pertanian sulit dikombinasikan dengan pembiakan ternak dalam jumlah yang besa, karena ternak itu akan bersaing dengan petani dalam hal produk pertanian.
  • Agriculture yang merupakan kehidupan yang berorientasi pada agraris.
    Manusia memiliki kemampuan adaptif yang cukup kuat. Baik dari segi destruktif maupund ari segi konstruktif terhadap alam dan diri sendiri. Dia dapat mengadakan manipulasi tanah, genetipe, hewan dan tanaman. Selama daya tampung areal lingkungan hidup operasionalnya luas dan dan populasinya rendah. Tidak ada masalah yang betul-betul destruktif, sekalipun pertanian dilakukan dengan lading berpindah-pindah. Hutan yang diratakan dan dibator untuk lading yang dipakai selama beberapa kali panen, lambat laun akan pulih kembali setelah ladang itu ditinggalkan. Lain halya bila dalam batas-batas pengetaahuan dan teknologi daya tampun areal lingkungan operasionalya, telah dilampaui akibat usaha meningkatkan produksi, maka eksploitasi alam berubah menjadi destruktif karena alam tidak diberi kesempatan memulihkan diri. Dalam keadaan itu saingan antara unit-unit desa dapat menjelma menjadi hubungan perang. Gejala ini dari segi ekologi juga merupakan suatu perilaku adaptasi.
  • Antropasere V, Merupakan kehidupan industri dengan segala aktivitasnya yang menunjang industri.
  • Antropasere VI, sebagai stadium klimaks

Kebudayaan Agraris

Seperti halnya dengan berbagai jenis hewan peliharaan, domestikasi berbagai jenis tumbughan tidak terjadi serentak. Jenis-jenis tertua adalah antara lain gandum, jawawut dan berbagai jenis kacang-kacangan (Havan – 1976). Bukti pertanian padi yang tertua berasai dari suatu jaman antara 3500 – 5000 tahun yang lalu di Non Nok Thailand (Higham – 1471).

Dengan proses domestikasi yang sedemikian lamanya itu, telah tumbuh suatu ketergantungan timbal batik antara manusia dan organisms yang dipelihara. Sejumlah variasi tanaman itu dewasa ini sudah sedemikian tergantung dari manusia, sehingga tidak dapat atau sulit sekali hidup kembali di alam bebas. Demikian nasibnya dengan misalnya jagung, beberapa variasi pisang dan padi-padian serta sayuran tertentu (contoh dari dunia hewan peliharaan adalah ; ayam leghorn dan anjing-anjing “Ras” tertentu yang sulit hidup dan sebaliknya, manusia telah juga menggantungkan diri pada produk domestikasinya. Usaha adaptif itu sebenarnya tcrbatas sekali. Dari alam flora yang amat kaya jenisnya, hanya 11 species tanaman yang terkena domestikasi, dan jumlah jenis yang sedikit itu merupakan sumber dari 80% bahan makanan manusia dewasa ini (Loomis, 1976). Dari segi produksi dalam jumlah ton, umat manusia praktis tergantung dari 4 jenis saja, yaitu gandum, padi, jagung dan kentang, keempat jenis tanaman ini bersama-sama diproduksi dalam jumlah yang melebihi produksi 26 jenis tanaman makanan lainnya Oawawud, ubi manis, singkong, kedele, sarghum, pisang, tomat, kelapa, dan sebagainya) (Harlan, 1976)

Pemeliharaan ternak dan tanaman disuatu lingkungan buatan memerlukan tenaga banyak orang. Makanan untuk ternak harus disediakan secara tcrus-menerus, pembiakannya harus diawasi. Tanaman juga memeriukan berbagai usaha yang pada antroposere stadium “hunting and gathefing” tidak diperlukan, yaitu persiapan tanah pertanian, penanaman bibit dan pembersihan ladang dan rumput-rumput, serta akhirnya pekerjaan panen dan menyimpan panen itu secara baik-baik. Dalam seluruh proses itu tanaman harus dijaga supaya tidak dimakan macam-macam jenis binatang, mulai dari yang keeil seperti serangga dan burung, tikus sampai yang besar seperti babi hutan, rusa dan gajah bila ada, jelaslah bahwa bila hasil panen kurang memuaskan pertanian ini kurang berkembang atau dilaksanakan sebagai pekerjaan sambilan. Hal ini dapat dilihat misalnya pada penduduk Pantai Utara Ifian (Koentjaraningrat, 1970) dan pada suku Kubu di Sumatera (Lebar, 1972). Mereka merupakan contoh masyarakat peralihan dari antroposere stadium “hunting and gathefing” ke stadium agrafis. Bila teknik penanaman lebih baik dan jenis tanaman lebih manafik produksinya, maka. usaha berburu dan mengumpulkan bahan makanan dari hutan berkurang atau dilaksanakan sebagai usaha alternatif, misalnya seperti pada masyarakat di P. Lamblen yang pada musim penghujan bertani tetapi pada musim kemarau berburu atau mencari ikan. Kehidupan peralihan antara antroposere stadium I, II dan IV banyak contohnya di Indonesia, misalnya pada: masyarakat Rejang, masyarakat Salor, Loinang (Lebar, 1972), masyarakat di Kal.Teng. (Danandjaja, 1970)

Peternakan di Indonesia tidak berkembang sebagai antroposere kebudayaan menggembala. Hal ini berkaitan dengan keadaan alam yang tidak memiliki padang rumput yang luas. Sekalipun demikian, dalam bentuk terbatas, peternakan telah berkembang di sejumlah masyarakat secara berarti. Misalnya di Timor (Suparlan1970), Flores (Koentja raningrat, 1970), di Sumbawa dan Madura (Lebar, 1970). Dari tingkatan pertanian yang berpindah-pindah, manusia akhirnya menilap dengan tadah hujan. Dengan teknologi pertanian yang meningkat, walaupun pertanian masih sederhana, produksinya berlipat ganda sehingga menjadikan pekerjaan pertanian lebih menarik daripada usaha penghidupan yang lain. Apalagi ketika tetah berhasil dikembangkan teknologi irigasi yang melepaskan masyarakat petani dari ketergantungan langsung pada hujan, Karena tidak semua tempat dapat diberi irigasi dan juga tidak semua jenis tanaman senang dengan banyak air, maka pada umumnya pertanian di ladang tadah hujan masili bertahan disamping pertanian sawah atau pertanian ladang dengan irigasi. Kebudayaan agraris yang menggunakan irigasi sampai saat ini merupakan suatu usaha adaptif yang dari segi efisiensi tekno-enviromental betum diungguli dengan tata hidup yang lain, yang paling modem pun tidak (Harris, 1973, Willfoyet, 1956).

Keberhasilan itu tergantung sebagian besar dari sistem kerja sama yang baik didalam masyarakat yang bersangkutan, sebab pengaturan air dan perawatan sistem pengairan memerlukan interaksi yang lancar, efiseinsi dan kontinu antara banyak orang. Dengan demikian selain adaptasi yang membentuk domestikasi, stadium agraris telah memperlihatkan perkembangan adaptif dalam bentuk evolusi sosial. Salah satu aspek perkembangan inj_yang paling menyolok adalah perkembangan hidup, bersama dalam suatu kelompok atau komuniti yang bertambah besar dan kompleks pekerjaannya (Moore, 1963). Jaminan kerjasama yang baik antara individu suatu, kelompok atau komuniti telah diperoleh melalui suatu perkembangan dalam struktur keluarga dan dalam struktur antar keluarga institusi perkawinan bukan semata-mata suatu urusan di bidang seks, tetapi merupakan suatu institusi penting untuk menjamin kelangsungan tenaga kerja yang dapat dididik secara intensif (enkulturasi dan sosialisasi di dalam kelompok atau komuniti), dan juga menjamin hubungan baik diantara kelompok-kelompok kecil yang terkait dalam hubungn perkawinan anggota dari satu kelompok kecil yang terkait dengan anggota dari kelompok yang lain. Dari segi ini, evolusi keluarga merupakan suatu evaluasi adaptasi ekonomi masyarakat (Hanis, 1975, Melall, 1981). Dalam perkembangan ini telah pula tumbuh adaptasi pencegahan hubungan yang tcrlampau erat diantara anggota keluarga, terutama dari segi biologik. Perkawinan yang menuju ke “inbreeding” dicegah. dengan tabu insest atau dengan adat perkawinan yang eksogam (Bixler, 198 1, Hulse, 198 1).

Mengingat pentingnya masalah kerjasama di dalam dan kemudian diantara kelompok, maka tidak mengherankan bahwa evolusi sistem sosial ini telah mendahului sejarah domestikasi ternak dan tanaman dengan 4000 sampai 5000 tahun. Unit pemukiman yang relatif tetap atau unit sosial perkampungan telah dikenal sejak 14000 tahun yang lalu, dan unit ini dalam bentuk yang lebih malang yaitu “dosa”, yang telah bertahan sampai dewasa ini dimana-mana di dunia. Adaptasi dalam bentuk unit desa telah memerlukan suatu evolusi perilaku yang kooperatif, individu-individu yang hidup bersama di dalam suatu kelompok besar harus mengembangkan suatu ketentuan kerjasama yang saling menguntungkan. Berbagai jenis usaha penghidupan untuk kelompok kecil seperti mencari bahan. makanan berupa buah-buahan, umbi, sayur, telur dan kerang dapat dilakukan sendiri secara efisien. Dalam hal itu tidak diperlukan bantuan orang lain. Berburu dengan cara mengintai hewan sasaran atau dengan cara menjebak hewan liar itu, juga dapat dikerjakan sindiri. Untuk memenuhi kebutuhan kelompok besar diperiukan kerjasaina antara banyak orang bila hasil yang ingin diperoleh itu berjumlah besar.

Misalnya mencari sagu di hutan dan memukul sagu, berburu hewan yang berkawanan atau mengajar hewan itu dari tempat persembunyiannya, semua kegiatan itu memerlukan kerjasama yang efisien, baik pada waktu memperoleh bahan makanan itu, maupun pada waktu hasil usaha itu diproses untuk diangkat atau diawetkan, apalagi bila lokasi pencarian itu terletak jauh dari tempat pemukiman. Tidak sulit untuk melihat bahwa perilaku sosial dalain suatu pemukiman tetap, telah berkembang dari suatu hubungan sosial yang kuat, stabil dan tahan uji pada anroposere stadium I dan 11. Pola kuat, stabil saja diteruskan ke dalam kebudayaan agraris, tetapi juga tidak saja diteruskan ke dalam kebudayaan agraris, tetapi juga mempunyai kelangsungan kehidupan menggembala.

Pada antroposere stadium agraris telah mencapai suau kemampuan adaptif yang hebat, baik dari pun dari segi konstruktif terhadap alam dan diri sendiri. Dia dapat mengadakan manipulasi tanah, genotipe hewan dan tanaman tetap terikat pada suatu sistem sosial yang teratur dan tetap yang disebut adat, Selama daya tampung areal lingkungan hidup operasionalnya luas dan populasinya rendah, tidak ada. masalah yang betul-betul destruktif, sekalipun pertanian dilakukan dengan ladang yang berpindah-pindah.

Hutan yang diratakan dan dibator untuk ladang yang dipakai selama beberapa kali panen, lambat laun akan pulih kembali setelah ladang itu ditinggalkan lain halnya bila dalam batas-batas pengetahuan dan teknolo daya tampung areal fingkungan operasionainya, telah dilampaui akibat usaha meningkatkan produksi maka eksploitasi alam berubah menjadi destruktif karena alam tidak diberi kesempatan memulihkan diri kembali. Dalam keadaan itu saingan antara unit-unit desa dapat menjelma menjadi hubungan perang. Gejaia ini dan segi ekologi juga merupakan suatu perilaku adaptasi.

Kebudayaan Industri

Kebudayaan industri tidak dapat dilepaskan dari sejumlah inovasi, terutama inovasi di bidang mekanisasi yang menggantikan tenaga kerja manusia dari hewan dengan mesin. Dalam perkembangan itu terjadi pula perubahan bahan bakar yang dipakai untuk produksi. Pada penggunaan tenaga manusia dari hewan, bahan bakar adalah makanan, kemudian tenaga angin dan air menghasilkan mekanisasi yang relatif murah, karena tidak menggunakan bahan bakar yang perlu disiapkan. Keterbatasan penggunaan tenaga angin dan air itu membuat manusta melangkah ke berbagai jenis tenaga yang tidak lagi tergantung dari lokasi dan musim seperti halnya dengan tenaga angin dan air, Inovasi penggunaan tenaga uap dan listrik berkaitan erat dengan penggunaan bahan bakar kayu dalam jumlah yang besar, untuk kemudian disusul dengan penggunaan batu bara dan minyak bumi. Dengan perubahan cara kerja ini juga telah dimulai sejarah politik penguasaan daerah-daerah sumber bahan baku industri dan daerah-daerah pasaran produk industri secara luas ke segala penjuru bumi.

Perubahan tata hidup agraris ke suatu tata hidup industri, yang juga disebut “revolusi” industri, pada umumnya dianggap telah dimulai beberapa abad yang lalu di Eropa, khususnya Inggris. Sebenarnya proses menuju ke stadium industri itu perupakan suatu proses yang telah berlangsung cukup lama dan pusat-pusatnya tidak di Eropa. Diantara 9000 tahun sebelum Masehi, sampai sekitar 5 abad sebelum Masehi, inovasi teknologi sudah ditemukan di Mesir, Analolia (Turki), Timur Tengah, lembah hindus dan Cina, sedangkan di Eropa keadaanya masih pada akhir antroposere stadium “hunting and gathering” atau pada stadium agraris yang dini, Sekalipun demikian sejarahnya, tetapi harus diakui bahwa perkembangan pesat di bidang industri telah terjadi di Eropa, khususnya di Inggris menjelang abad ke-18 dan kemudian menular terutama di dunia “Barat. Bahan baku industri ini bukan saja bahan pertambangan seperti berbagai jenis logam, tetapi juga bahan baku yang berasal dari tanaman. Demikian muncul apa yang dapat disebut pertanian industri alam perkebunan. Misalnya perkebunan karet, kapas, kako, kina, teh, kopi, kelapa sawit, dan lain-lain.

Dampak perkembangan industri itu terhadap penyebaran manusia di dunia besar sekali, sebagai contoh ; Industri tekstil sampai akhir abad yang lalu membutuhkan banyak bahan baku kapas, untuk produksi kapas ini, diantara tahun 1451 dan 1870, telah diangkut sekitar 9,6 juta budak negro dari Afrika terutama ke Amerika. Perkaebunan di koloni-koloni Inggris dan Belanda telah menyerap sekitar 16,8 juta orang India, beberapa juta orang Cina Selatan dan beberapa ratus ribu peduduk dari pulau Jawa. Tenaga kasar yang transmigrasi ini tidak sclurulinya kembali ketempat asalnya sesudah “kontrak” nya selesai (Davis, 1974). Dampak pemindahan populasi ini jarang masih terasa di beberapa daerah bekas kolonisasi dan bekas daerah produksi bahan baku industri. Masalahnya bukan saja masalah sosial, tetapi juga masalah kebudayaan, sebab dengan transmigrasi penduduk juga terjadi interaksi kebudayaan.

Sehubungan dengan perkembangan industri telah pula terjadi apa yang disebut “transisi demografik” (Eholich, 1973) artinya angka kematian menurun dan angka kelahiran juga turut menurun. Di Eropa angka kematian sebesar 22 – 24 per seribu penduduk pada tahun 1850, telah menurun sampai 16 perseribu pada tahun 1400 seperti di negara-negara Skandinavia. Angka kelahirin juga menurun sehingga pertumbuhan penduduk di Eropa sekitar 0,5 sampai 1% sejak perang dunia ke II. Transisi demogrfik telah mulai di Eropa pada permulaan abad ini dan kemudian juga tampak di Amerika Serikat dan Kanada. Gejala tersebut belum tampak betul di negara-negara Amerika Selatan, Afrika dan Asia, hal ini dapat dipakai sebagai indikator bahwa daerah-daerah bumi tersebut belum betul-betul masuk antroposere stadium V, sekalipun bidang industri dipacu dan program keluarga berencana disebar-luaskan.


Dari segi antropo-ekologi, perkembangan kebudayaan industri sebenamya merupakan suatu kemajuan yang semu. Hal ini dapat diperlihatkan melalui beberapa jalan, misalnya melalui Konsumsi energi dalam 1000 kilometer per kapita, per hari

Pada tingkatan antroposere I dan II

2 sampai 5

tingkatan antroposere III dan permulaan kehidupan agraris

12

antroposere IV, agraris penuh

26

antroposere V, industri dan pada suatu technological society

77 sampai 23


Melihat rata-rata tersebut di atas, maka jumlah energi yang diperlukan oleh suatu masyarakat teknologi industrial luar biasa banyaknya bila dibandingkan dengan garis dasar sebesar 2 sampai 5 ribu kilo kalori per kapita per hari yang dipakai di dalam suatu lingkungan kehidupan sederhana. Dengan memperhitungkan efisiensi tekno-enveronmental, kemajuan semu kebudayaan industri juga cuktip jelas. Hal ini dilakukan melalui rumus

E = m x t x r x e (Harris, 1975)

F = energi makanan, atau jumlah kalori yang dihasilkan oleh suatu sistem produksi per tahun
m = jumlah orang yang terlibat dalam kegiatan produksi (makanan)
t = jumlah jam yang dipakai oleh masing-masing orang dalam kegiatan produksi
r = jumlah kalori yang diperlukan oleh masing-masing orang dalam kegiatan
e = efisiensi tekno-environmental, alam rata-rata jumlah kalori yang dihasilkan untuk setiap kalori yaiig dipakai dalam produksi (makanan),
Pada suku Kung yang hidup berburu dan mengumpulkan bahan makanan yang ada di alam padang gurun katahari (Afrika), efisiensi teknoenveronmental mereka itu adalah 9,6. Perhitungannya diperoleh secara empirik sebagai berikut

E = m x t x r x e
23,000.000 = 20 x 805 x 150 x 4,6

Pada masyarakat desa genieri, di Gambia, Afrika Barat, yang bertani secara sederliana, SLibStitLISi padanii-nus adalah sebagai berikut

E = m x t x r x e
46.000.000 = 334 x 820 x 150 x 11,2

Untuk masyarakat yang melaksanakan pertanian tadah hujan, efisiensi tekno-enveronmentalnya adalah 18, untuk masyarakat dengan pertanian beririgasi, nilainya meningkat menjadi 53,5, tetapi untuk masyarakat yang melaksanakan pertanian secara industrial, nilai tekno-enverenmental sistem produksi yang primitif, sebaliknya ialah kompleksitas usaha untuk produksi makanan secara modem. Efesiensi menurun dengan tajam dan juga banyak sekali energi habis dalam bermacam-macam industri dasar dan industri penunjang yang dperlukan oleh energi mulai dari usaha pertambangan sampai ke industri peralatan, juga untuk bidang pendidikan para ahli dan tenaga kerja yang dipakai dalam industri tersebut, ditambah pula energi yang diperiukan untuk menemukan, menghasilkkan dan mengangkut bahan bakar minyak sampai di tempat yang diperiukan.

Dengan demikian hasil panen yang bertimpah-limpah (yang dibentuk oleh pupuk buatan dan herbisida serta pestisida yang semuanya juga menelan energi dalam pembuatannya), sebenamya belum cukup untuk menutup pengeluaran energi secara menguntungkan.

Kesimpulan yang serupa telah diperoleh melalui suatu penelitian subsidi energi untuk pertanian jagung di Amerika Serikat selama periode 1945-1970, oleh Comel University (Leach, 1975). Perbandingan energi terhadap produksi dalam periode 1945-1970 telah menurun dari 3,7 menjadi 2,8 kedua nilai tersebut sebenarnya merupakan nilai yang lebih buruk dari pertanian primitif yang menggunakan tenaga manusia. Sehubungan dengan masalah efisiensi ini, sangat menarik perhatian, bahwa sarana empirik dan intuity petani bila pada beberapa kesempatan telah menolak mekanisasi. Misalnya praktis ; traktor akhimya menjadi besi tua, sedangkan sapi sambil membantu dalam pengolahan tanah, masih beranak dan akhirnya bisa dimakan. Disamping itu, dengan penggunaan traktor terdapat masalah bahan bakar yang harus dibeli dan pengaturannya belum tentu lancar, sedangkan makanan ternak tumbuh di daerah pertaniaii itu juga (Surabaya Post, 1980, Tempo, 1980).

Efisiensi yang rendah pada pertanian industrial, sudah menimbulkan reaksi di negara yang maju seperti Amerika Serikat. Penggunaan pupuk buatan membuat tanah kehilangan strukturnya yang menahan air dari erosi. Dengan hilangnya unsur organik dan tanah, bukan saja erosi bertambah, tetapi tanah menjadi padat untuk mengolah tanah yang padat itu diperlukan peralatan makanis yang lebih berat, dengan bobot yang lebih berat itu juga membantu membuat tanah lebih padat lagi (Turker, 1979). Olch karena itu usaha pertanian secara tradisional mulai populer kembali di Amerika Serikat, terutama dari segi penggunaan pupuk organik atau pupuk kandang (Carter, 1980), Melihat pengalaman seperti itu tidak mengherankan bahwa Cina sebagai negara dengan sekitar 800 juta penduduk memperdebatkan perkembangan pertanian itu, Langkah manakah yang paling tepat ; mekanisasi dengan segala sistem penunjang industrial untuk melaksanakannya, ataukah pertanian tradisional yang padat karya (Hsu, 1979). Industri sendiri membawa sejumlah masalah khusus. Disamping membuat berbagal aspek kehidupan lebill mudah dan menyenangkan karena produksi alat-alat rumah tangga, alat-alat kerja, dan sebagainya yang praktis dan relatif murah, industri juga membawa sejumiah hal yang tidak saja menganggu, tetapi juga membahayakan, seperti polusi partikel, polusi bahan kimia yang berbahaya, polusi suara, bahaya kebakaran dan bahaya ledakan selain itu juga tekanan jiwa, karena kecepatan kedua ditentukan oleh mesin, bukan oleh selera manusia lagi. Demi efisiensi penggunaan mesin, jumiah produksi minimal sudah diperhitungkan dan jumlah produksi maksimal merupakan sasaran setiap industri yang ingin menjamin kelangsungannya. Mengingat perkembangan ilmu dan teknologi juga sangat pesat, maka banyak produk cepat sekali menjadi usang atau sekurang-kurangnya kurang laku karena saingan produk yang baru atau yang lebih menarik. Tekanan lingkuiigan kerja ini dengan sendirinya menuntut korban-korbannya. Tingkatan kebudayaan industrial dilihat diukur dari peningkatan dan tingkat kerawanan kasus bunuh diri, kelainan prilaku golongan sosial dan ganas, penyakit jiwa dan penyakit jantung, ditambah dengan jumlah korban kecelakaan baik dalam usaha produksi maupun dari efek sampingan seperti keracunan polusi (Canner, 1968, Walford, 1974 ; Warth, 1975, James, 1976)

Berbeda dengan kehidupan agraris yang menggunakan sumber energi utama matahari dalam produksinya, kebudayaan industri goal ini menggantungkan diri pada sejumlah sumber energi yang mempunyai keterbatasan, baik dari segi jumlahnya maupun segi lokasinya, ketergantungan ini jelas setingkat dengan tingkat perkembangan industri. Oleh karena itu konsumsi dan ketergantungan semacam itu berpusat di negara-negara industri yang maju. Daftar dibawah ini memperlihatkan betapa tidak seimbang konsumsi dan kepentingan itu dimuka bumi

Derajat Ketergantungan Pada Jenis-Jenis Sumber Energi

Sumber Energi

% konsumsi dunia

% konsumsi di Amerika

Batu bara

36,6

22,5

Minyak bumi

42,7

43,0

Gas alam

18,3

33,0

Hidro elektrik

2,1

1,3

Nuklir

0,3

0,2

Dari tabel yang tercantum diatas dapat dilihat derajat ketergantungan suatu negara seperti Amerika Serikat, jenis sumber energi tertentu. Tidak sulit pula untuk melihat bagamana produsen sumber energi seperti, minyak bumi pada suatu saat niengambil kesimpulan “mengendalikan” negara raksasa itu melalui eksport minyak bumi. Hal ini telah dilaksanakan oleh OPEC dalam periode 1973-1974 untuk pertama kalinya, tetapi ekologi ekonomi dunia tidak sedemikian sederhana. Pengendalian sumber energi terdapat di satu pihak, tetapi pengendalian produksi dan pesanan terdapat di lain pihak, keseimbangan ekologik antroposere stadium V cukup baik, oleh karena itu tidak mengherankan bila pada suatu keadaan tertentu tekanan hidup mencetuskan suatu prilaku adaptasi yang rasional yang terjadi ketika inflasi membuat masyarakat di mana-mana melepaskan norma ekonomi modern, dan kembali pada pegangan yang amat kuno, yaitu logam mulia perak dan emas. Prilaku tersebut pada permulaan tahun 1980 di negara-negara industri yang maju dapat dipandang sebagai suatu indicator bahwa sekalipun suatu masyarakat sudah meningkat ke antr6posere stadium yang “tinggi” di alam ketidaksadarannya masih hidup norma-norma dari antroposere stadium yang lebih dini. Karena labilnya ekologi manusia pada tingkatan kebudayaan industri, maka telah diusahakan sejumlah pendekatan untuk membuat suatu keadaan lebih mantap, atau sekurang-kurangnya memperoleh tanda bahaya sedini mungkin sehingga proses adaptasi yang paling tepat dapat direncanakan, contob-contoh dimana-mana, pengembangan usaha sistem evaluasi dan monitoring polusi.

Antroposere Stadium : Kebudayaan Urban

Seperti dengan revolusi Industri yang telah dibahas bab yang talu revolusi urban juga mempunyai akar-akarnya dimasa silam. Kedua perubahan tata hidup manusia sebenarnya erat sekali hubungannya satu dengan lainnya. Diantaranya 10.000 dan 5.000 tahun yang lalu domestikasi tumbuh-tumbuhan dan hewan serta kemajuan dalam pembuatan alat kedua memungkinkan manusia bermukim tetap dan menghidupkan jumlah populasi yang besar. Dengan sendirinya tata hidup social juga berubah dari sekumpulan manusia dengan struktur sosial yang sederhana ke suatu masyarakat dengan wujud kepemimpinan yang jelas beserta hirarki pemerintah yang apresialistik yang mantap. Norma-norma sosial tidak cukup lagi bersifat konvensional, tetapi pertu ditetapkan melalui prasasti yang tahan lama salah satu contoh yang tertua adalah prasasti Hammurabi yang berumur lebih dari 4.000 tahun dan di temukan di Babilon, Irak. Isinya 282 peraturan hukum (DIR GEN Aut 1957). Perkembangan semacam itu dimungkinkan dengan perkembangan hampir 5.000 tahun yang lalu di Sumer dan Mesir, kemudian sekitar abad ke-15 sebelum Masehi yang ditemukan di Cina (Barty 1965).

Salah satu kota tertua adalah Yerikko di lembah yordan yang 10.000 tahun yang lalu sudah berwujud lengkap dengan tembok perbentangan di sekelilingnya dan menara-menara. Luasnya relatif kecil sekitar 4 atau 5 ha. dan penduduknya hanya kurang lebih 2.000 jiwa. Empat ribu tahun kemudian, dalam periode 6350 sampai 5200 tahun yang lalu Timur Tengah mengenal kota-kota besar dengan jalan-jalan raya, istana dan candi-candi seperti Eridu, Al-Uband dan Uruk.

Dalam periode berikutnya sampai permulaan Masehi, berbagai pusat Urban di dunia telah berkembang menjadi kota keraton, kota benteng kerajaan-kerajaan tertentu atau berbentuk negara kota. Kota-kota kuno itu bukan sekedar suatu tempat pemukiman, tetapi merupakan jantung kegiatan ekonomi dan pemerintahan yang sangat didukung oleh kekuasaan religi seiempat. Perkembangan sebuah kota sebagai ekspresi kebudayaan urban antara lain dari bentuk fisik. Kriteria fisik adalah sekumpulan ciri-ciri kebudayaan material seperti bangunan yang permanen yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi berdekatan letaknya menurut suatau pola yang teratur. Disamping bangunan-bangunan pribadi, harus juga terdapat bangunan-bangunan untuk keperluan umum.

Perilaku yang khas untuk patokan definisi kota sebenarnya juga menyangkut sikap yang belum tampak sebagai perilaku sehari-hari. Kriteria perilaku sebanamya merupakan suatu sindrom, atau suatu kumpulan perilaku tertentu misalnya perilaku yang mengarah ke individualisme anominitas, materialistic dan berbagai usaha pencarian nafkah. Pemikiran yang teknis mengarah ke penggunaan teknologi mutakhir untuk memudahkan sesuatu usaha, Kota sebagai suatu sistem ekologik tersendiri pada permulaan sejarahnya di bumi tidak terasa dampaknya dialam raya. Semua ini dengan pertumbuhan urban dimana-mana, banyak negara pada hakekatnya sudah merupakan suatu daerah yan dominan urban daripada Rural. Jepang misalnya mempunyai perbandingan areal urban terhadap areal agraris sebesar 1 banding 5. Terlepas dari gejala bahwa proses urbanisasi masih jalan terns perbandingan I : 5 jelas bukan suatu keadaan yang dapat diabaikan. Masyarakat Inggris sudah dapat disebut masyarakat urban sekalipun tempat tinggalnya di pedesaan, sebuah kota yang sudah mancapai tingkatan metropolis dengan jutaan penduduknya menutup sebidang tanah yang amat luas. Karena pusat-pusat pemukiman ini semuanya ditampung oleh lahan agraris disekitamya, maka dengan pertumbuhan pemukiman itu menjadi kota dan kemudian menjadi metropolis dengan sendirinya yang ditutup oleh bangunan-bangunan dan sistem latu lintas didalam daerah -daerah pertanian yailg biasanya berkualitas baik, yang tertinggal adalah yang kualitasnya lebih rendah.

Penutupan tanah juga membawa akibat bahwa air yang turun pada waktu hujan tidak sempat menyerap kedalam tanah. Air yang turun pada waktu hujan mencari tempat-teinpat kota yang terendah dan banjirlah disitu, karena saluran-saluran pembuangan air yang konvensional tidak mampu menampung volume air yang berkumpul secara tiba-tiba. Untuk kehidupan kota besar mengambil material dan energi dari banyak daerah yang jauh-jauh tetapi tidak mengembalikan, hal-hal yang dipakai ke tempat hal-hal itu, Sampah ditimbun setempat atau dibuang ke sungai atau ke laut.

Sistem peredaran zat atau material dan energi yang terbuka ini membawa dampak pada daerah-daerah penunjang metropolis. Mereka seolah-olah dirampok darl kekayaan kekayaan alam tidak ada proses regenerasi, kecuali sintetik. Khusus dalam hal air, sebuah kota besar, apa lagi bila kota tersebut juga merupakan kota industri, sifatnya sangat boros. Bila air yang disalurkan dan luas tidak mencukupi kebutuhan langkah berikutnya adalab membor air dari dalam tanah. Pengisian gudang air dibawah tanah tidak diperhatikan dengan akibat penurunan tanah suatu gejala yang tidak asing di banyak kota besar, contohnya Mexico City dengan pekitar 3000 sumur bor pribadi dan 220 sumur bor pemerintah telah menghasilkan penurunan tanah itu berkisar antara 5 cm samnpai 50 cm pertahun. Dalam periode 1891 – 1959 sudah ada bagian kota yang turun sebanyak 7,5 meter.

Iklim kota dan kontak yang banyak dan seiring antara orang dari bermacam tingkatan kesehatan, merupakan suatu lingkungan hidup yang dari segi kesehatan tidak optimal. Dari tubuh dan pemikiran penduduk kota dituntut supaya tetap sehat. Gangguan kesehatan selalu ada dimana-mana mulal dari polusi zat-zat yang berbahaya di udara, polusi suara (kendaraan, mesin alat-alat kantor, radio dll sebagainya), sampai kuman-kuman yang menular di tempat-tempat yang ramai dan juga bahaya kecelakaan serta bahaya kejahatan perlu diperhitungkan setiap harl selama 24 jam. Deteriasi fasilitas, seperti fasilitas komunikasi fasilitas penggunaan air, listrik, pengangkutan sampah kesulitan transportasi dan sebagainya, semua hal seperti itu sedikit menambah stres. Banyak segi kehidupan sebuah kota besar membawa tekanan, tekanan yang kurang sehat pada penduduknya, antara lain hidup berdekatan dan berdesak-desakan menyebabkan masyarakat yang bersangkutan lebih sering bertatap muka dan banyak kejadian, tatap muka itu diluar keinginan orang-orang yang bersangkutan.
Dengan demikian mekanisme penyesuaian sosial selalu harus siap siaga supaya hubungan baik antara individu terpelihara dengan mantap. Hal ini jelas tidak selalu berhasil, saingan sosial ekonomi didalam suatu lingkungan dengan banyak orang dengan sendirinya meningkat untuk bertahan hidup. Aspek kehidupan ini tidak sedikit menyumbang tekanan batin kepada banyak penduduk kota.

Pertanyaan / Diskusi :
1. Jelaskan proses perubahan cara hidup agraris kesuatu tat hidup industri yang juga disebudengan Revolusi Industri
2. Jelaskan akibat perkembangan industri disebut juga dengan transisi Demografi
3. Jelaskan apakah kebudayaan urban tidak dapat dilepaskan dari ejumlah inovasi
4. Jelaskan industri membuat berbagai aspek lebih mudah dan menyenangkan karena produksi kerja dan sebagainya yang lebih praktis

4.3. Peradaban dari Jaman ke Jaman Akibat Perkembangan IPTEK

1. Pendahuluan

Pengertian yang umum dari peradaban adalah bagian dari kebudayaan yang bertuiuan untuk memudahkan dan menyejahterakan hidup. Misalnva ; ilmu Teknik yang melakukan alat-alat atau mesin-mesin untuk mempraktiskan, memberi comfort kepada manusia. Peradaban adalah seluruh kehidupan sosial, politik, ekonomi dan ilmu teknik, jadi semua bidang kehidupan untuk kegunaan yang praktis.

Manusia dikatakan mahluk tidak lengkap dalam perkembangan masyarakatnya maupun dalam hubungannya dengan sekitrnya. Kelakuan manusia yang dipimpin oleh budinya berada dalam suasana kebebasan yang lebih besar. Dalam hidup manusia selalu ada proses pengaruh mempengaruhi yang dinamik dan dialektik antara budinya dengan lingkungan alamnya, lingkungan masyarakat dan lingkungan kebudayaannya. Dengan menggunakan budinya manusia tidak lengkap itu senantiasa melengkapi dirinya dengan menghubungkan dirinya dengan sekitamya. Dalam menanggulangi kehidupannya, manusia dengan sifatnya makin lama dapat menguasai kekuatan alam dan berhasil menyempurnakan alat kerjanya. Dengan sifat anatomi dan fisiologis yang khusus seperti badannya yang berdiri tegak, tangannya yang bergerak bebas dan jari-jarinya yang tersusun demikiati rupa, sehingga manusia dapat memegang dan membuat alat.

Pada permulaan hidup Homo Sapiens perkembangan teknik berjalan dengan lambat, bahan-bahan dan alat kcrja masih amat sederhana. Kemajuan yang sangat cepat yang dialami oleh umat manusia belumlah lama benar. Kira-kira baru seratus lima puluh tahun lamanya manusia maju dihampir segala lapangan, sebab baru sejak waktu itulah manusia berhasil menguasai kekuatan uap, listrik dan energi kimia. Bersama-sama dengan makin dikuasainya tenaga alam oleh manusia berubah pulalah teknologi.

Dalam uraian selanjutnya mengenai percepatan perkembangan perubahan teknologi, dalam pengembangan IPTEK ada satu fakta yang sangat besar pengaruh dan gunanya bagi kemajuan kebudayaan/peradaban.

2. Perkembangan Percepatan Pada Eirisieiisi Alat Potong/Alat Kerja.

Sejuta tahun perkembangan percepatan pada effesienst alat potong/alat kerja. Di museum-museum kita lihat berbagai macam alat potong dari manusia pra sejarah seperti pisau dan kapak yang terbuat dari batu, ujung-ujung tombak dan anak panah, yang digunakan oleh nenek moyang kita selama ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Batu api yang mereka gunakan tidak lapuh sebagaimana halnya keranjang atau sendok kayu, atau rumah-rumah mereka, bahkan lebih tahan dari pada tulang. Karenanya berbagai macam batu api di museum-museum digunakan sebagai ukuran jangka panjang yang paling jelas dari kemauan manusia pra sejarah dalam mengolah lingk-ungan fisiknya. Ternyata dari peninggalan yang ada, terlihat bahwa selama 1 juta sampai sekitar 100 ribu tahun sebelum Masehi, lebih lambat jika dibandingkan dengan perkembangan yang dicapai dalam 8 ribu tahun sesudahnya. Dari sini timbul pertanyaan mengapa hal ini dapat terjadi ?.

Jawaban yang mungkin paling tepat adalah kemajuan dalam mencairkan efisien alat potonglah yang mempercepat proses ini. Percepatan yang nyata ini dapat dinyatakan menjadi istilah kuantitatif bila efisiensi alat potong diukur dengan lima kriteria yaitu
1. Kemajuan dari sisi potong.
2. Daya tahan
3. Diferensiasi dan spesialisasi
4. Keefektifan alat dalam memotong benda
5. Penggunaan tenaga pembantu.

Pertambahan kemampuan teknologi manusia untuk memotong dan membentuk benda 3 ribu tahun terakhir sama dengan perkembangan yang dicapai dalam berjuta-juta taliun sebelumnya

3. Percepatan Penguasaan Alam Oleh Manusia.

Masa kebudayaan manusia pra sejarah terbagi menurut benda dan teknik yang digunakan dalam membuat alat-alatnya. Jaman batu tua ditandai dengan peralatan dari batu yang diruncingkan secara primitip (Chipping). Jaman batu baru merupakan jaman peralatan dari batu yang diruncingkan dengan cara menggerinda. Jaman tembaga, kuningan dan besi menunjukkan bahan yang dipakai untuk membuat alat, dan jenis teiiaga yang digunakan sebagai penggerak.

Bila kita menganalisis masa pra sejarah dari segi ini, kita mendapat gambaran yang lebih jelas tentang percepatan penguasaan lingkungan pada kebudayaan teknologi manusia. Masa penggunaan tenaga otot manusia berumur ribuan kali lebih besar dari pada umur penggunaan tenaga yang dipakai sekarang.
Di jaman batu tua, tenaga yang dipakai menggerakkan alat sepenuhnya dari tenaga otot manusia. Pengembangan cara ini merupakan penggunaan tenaga otot manusia secara lebih efektif yaitu menggunakan pegangan pada kampak batu dan busur untuk menggurdi dan melepaskan anak panah. Tujuannya bukan saja untuk lebih memudahkan pengarahan terhadap benda yang dikerjakan tetapi juga untuk menambah tenaga.alat pelempar tombak yang muncut pada jaman Magdalenia merupakan suatu alat lain untuk menambah tenaga bagi persenjataan saat itu. Penjinakan hewan dan perbudakan manusia merupakan perkembangan lebih lanjut dari masa tenaga otot. Penjinakan hewan pada jaman Neolitikum memperbesar kemampuan tenaga otot.

Gerobak beroda 4 yang ditarik oleh lembu-lembu digunakan di mesopotamia sekitar tahun 3.300 S.M. dan di India sekitar tahun 3000 S.M. Alat bajak yang ditarik binatang, pertama kali dikenal di Mesir ketika bangsa Hyksos memperkenalkan kuda dalam penyerbuannya. Bangsa Mesir kuno tampaknya telah menggunakan tenaga air dengan menempatkan sebuah alat beroda gigi di bawah air tedun. Gerakan air tedun yang memutar roda gigi, dipakai untuk menggerakkan benda lain.
Orang Romawi kuno menggerakkan roda gigi dengan memakai kuda, tenaga budak, dan mungkin juga tenaga air. Sedangkan bangsa Anglo Saxons sebelum tahun 500 Mesehi melakukan penggilingan biji-biji hasil pcrtaniannya dengan tenaga keledai. Baru pada abad ke 8 mereka menggunakan tenaga air. Kincir angin untuk penggilingan pertama kali dikenal di Inggris tahun 833 Masehi dan di jaman pertengahan telah terlihat adanya beberapa kemajuan pada kincir angin dan kincir air.

Perkembangan yang digambarkan di atas telah menutup masa silam manusia untuk berpindah dari masa tenaga otot kepada tenaga lainnya. Ini memakan waktu lebih dari 1 juta tahun. Jaman pengangkutan dengan tenaga kuda, pelayaran, perbudakan dan air baru berakhir antara tahun 3000 S.M. sampai kira-kira 1800 Masehi. Suatu masa hampir 5000 tahun. Kemudian setelah itu timbul revolusi industri.

Hak patent dari Watt tentang mesin uapnya diajukan pada tahun 1765. Setelah itulah penggunaan tenaga batu bara mulai berkembang, yang kemudian dilengkapi dengan tenaga minyak bumi dan hidroelektronik. Sebagai perbandingan terhadap masa yang sangat lama dari perkembangan masa silam, evolusi tenaga listrik, motor bakar dan mesin jet bergerak dengan pesat, yang ternyata hanya memakan waktu tidak lebih dari 100 tahun.

Dalam 80 tahun antara 1973 – 1953 produksi per kapita telah berlipat sampai 7 kali. Sekarang kita menyaksikan perkembangan tenaga atom yang juga beriangsung sangat cepat. Gerobak beroda 4 yang ditarik oleh lembu-lembu digunakan di mesopotaniasekitar tahun 3.300 S.M. dan di India sekitar tahun 3000 S.M. Alat bajak yang ditarik binatang, pertama kali dikenal di Mesir ketika bangsa Hyksos memperkenalkan kuda dalam penyerbuannya. Bangsa Mesir kuno tampaknya telah menggunakan tenaga air dengan menempatkan sebuah alat beroda gigi di bawah air tedun. Gerakan air tedun yang. memutar roda gigi, dipakai untuk menggerakkan benda lain.

Orang Romawi kuno menggerakkan roda gigi dengan niemakai kuda, teiiaga budak, dan mungkin juga tenaga air. Sedangkan bangsa Anglo Saxons sebeltim tahun 500 Mesehi melakukail penggilingan biji-biji hasil pcrtaiiiaiinyt dengan tenaga keledai. Baru pada abad ke 8 mereka menggunakan tenaga air. Kincir angin untuk penggilingan pertama kali dikenal di Inggris tahun 833 Masehi dan di jaman pertengahan telah terlihat adanya beberapa kemajuan pada kincir angin dan kincir air.

Perkembangan yang digambarkan di atas telah menutup masa silam manusia untuk berpindah dari masa tenaga otot kepada tenaga lainnya. Ini memakan waktu lebih dari I juta tahun. Jaman pengangkutan dengan tenaga kuda, pelayaran, perbudakan dan air baru berakhir antara tahun 3000 S.M. sampai kira-kira 1800 Masehi. Suatu masa hampir 5000 tahun. Kemudian setelah itu timbul revolusi industri.

4. Percepatan Alat Transport dari Kecepatan Manusia

Dalam dunia modern transport-trnsport dilakukan melalui darat, laut, dan udara. Bermacam-macam alt transport dapat dipelajari dari sudut :
· kekuatan daya tarik
· kecepatan gerak
· teknis
· ekonomis
· prestise
· nilai teknis
· social lain

Dalam masyarakat sederhana hanya terdapat transpor darat dan air, pada zaman Paleoliticum, alat transpor belum di kenal orang, setelah orang dapat menjinakkan hewan, maka binatang inilah yang digunakan untuk alat transpor.
Sejak roda ditemukan orang, pengangkutan di darat berjalan lebih cepat, Bilamana dan dimana roda itu ditemukan, belumlah diketahui roda dikenal dalam periode DESCHEMDET NASR di Mesopotamia kira-kira 4000-3000 S.M. Kapal semula digerakkan manusia kemudian oleh tenaga manusia, kemudian oleh tenaga angin dan terakhir oleh tenaga mesin. Pada perkembangan selanjutnya alat-alat transport itu mengalami kemaiuan terutama setelah ditemukan prinsip pembangkit tenaga uap, mesin dan tenaga kimia.

Di tahun 1750 cara tercepat untuk keckecepatan gerak kuda telah dipergunakan manusia jauh sebelum tahun itu. Penggunaan kuda pertama kali dikenal sekitar 1700 SM ketika bangsa Hykos membawanya ke Mesir.
Kemudian ditemukan kereta api yang dapat bergerak lebih cepat darl kuda. Ketika Napoleon harus menggerakkan pasukannya dengan cepat, jalan terbaik masih dengan berkuda, tapi dalam 80 tahun antara tahun 1829-1909 kemajuan dalam lokomotif telah menambah kecepatan dalam perjalanan manusia lebih dari apa yang pernah dicapai selama jutaan tahun sebelumnya.
Di tahun 1910 mobil mulai menyusul kecepatan kereta api kemudian pesawat terbang menjadi alat bergerak, kecepatan perkembang mobil dan pesawat terbang dalam 40 tahun, 9 kali lebth maju dibandingkan dengan yang terbaik pada lokomotif selama 80 tahun.

Oleh karena kemajuan sistem transport dan komunikasi, kontak antar manusia, masyarakat dan kebudayaan makin tinggi kecepatan dan frekuensinya. Kontak kebudayaan menimbulkan berbagai perubahan disertai ketegangan dan revolusi.
Bangsa-bangsa yang pada masa lampau dipisahkan oleh lautan dan daratan dan yang tidak pernah bertemu berabad-abad lamanya, kemudian dengan mudah dapat mendatangi satu sama lain, Akibat kontak kebudayaan yang menimbulkan difusi dan akumulasi itu makin kayalah kebudayaan manusia secara keseluruhan.

Dunia boleh dikatakan menjadi satu masyarakat yang besar, yang didalamnya hidup berbagai bahgsa dan suku bangsa, yang berlomba-lomba untuk maju, segalanya berkat kemajuan dalam sistem dan teknologi transport.
Hal-hal yang dibicarakan tersebut di atas hanya yang positif saja, pada hal manusia juga berkembang utituk merusak musuhnya. Tentang hal ini dapat dipelajari dengan melihat beberapa segi

Pertanyaan dan Diskusi :
1. Jelaskan perilaku masyarakat Antroposere Stadium I dan II
2. Jelaskan dampak perkembangan industri terhadap penyebaran manusia
3. Jelaskan pada permulaan hidup Homo Sapiens perkembangan IPTEK dikatakan berjalan sangat lambat
4. Jelaskan akibat kemajuan system trasport dan komunikasi terhadap peradaban manusia

Referensi :
1. Abu Ahmadi, Drs “Antropologi Budaya Mengenal Kebudayaan dan Suku-Suku Bangsa Indonesia“, Pelangi, Surabaya, 1986
2. A. Adi Sukadana, “Antropologi Ekologi” Airlangga University Press, Surabaya, 982
3. Emil Salim, Prof. Dr. “Pembangunan Berwawasan Lingkungan” LP3ES, Jakarta, 1985
4. Harsono Taroe Pratjeka, Dr. Ir. “Konsep Teknologi“, Keluarga Mahasiswa Teknik Industri ITB, 1975
5. harsoyo, Prof, “Pengantar Antropologi” Bina Cipta, 1988
6. Y.B. Mangun Wijaya, “Teknologi dan Dampak Kebudayaanya“, Volume II, yayasan Obor, Jakarta, 1983
7. Yusytina Rostiawati, Dra. Dkk “Etika Sosial” PT Gramedia, Jakarta, 1989
8. Otto Samrwoto, Prof Dr. Ir. “Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan“, Djambatan, Jakarta, 1985
9. Koen Tjara Ningrat, Prof Dr. “Manusiadan Kebudayaan di Indonesia” Djembatan, Jakarta, 1971

BAB V

MANUSIA DAN LINGKUNGAN

5.1. Manusia Dalam Lingkungan
5.2. Antroposentrisme dan Biosentrisme
5.3. Lingkungan Hidup alami, Lingkungan Binaan / Buatan dan Lingkungan Sosial

5.1. Manusia Dalam Lingkungan

oleh Dra. Sukriyah Kusanti

Perjalanan sejarah keberadaan manusia di muka bumi telah menunjukkan bahwa perubahan masyarakat manusiaberlangsung secara evolusioner. menurut Miller Jr (1982), perubahan tersebut berturut-turut berupa tahap:
1. Masyarakat Pemburu dan Pengumpul, tingkat awal,
2. Masyarakat Pemburu dan pengumpul tingkat lanjutan,
3. Masyarakat petani dan,
4. Masyarakat industri.

Tahapan masyarakat tersebut terbentuk karena tingkat kernaiuan teknologi yang dimiliki pada waktu. Itu. Di lain pihak, selain teknologi telah memberikan peningkatan keleluasaan pada manusia dalam menikmati kehidupan, ternyata juga telah menimbulkan dampak negatif pada lingkungan hidup.Seperti misainya timbuinya pencemaran, kelangkaan sumberdaya alam , dan sebagainya.

Dari perkembangan masyarakat tersebut, terlihat bahwa perilaku manusia di muka bumi ini telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan ekosistem yang dapat mengancam kelangsungan hidup populasi manusia sendiri. Sedangkan perilaku manusia merupakan pencerminan dari moral manusia yang dimilikinya. Citra manusia hanya mempunyai relevansi, jika dalam kehidupan bersama dalatn ketompok masyarakat. Sebab dalam kehidupan berkelompok itulah terdapat sistem-sistem perlambang yang selanjutnya berfungsi sebagai sumber nilai. Cara manusia mewujudkan diri adalah hasil pilihannya sendiri. Oleh karena itu apapun pilihannya, manusia dia sendiri yang bertanggung jawab. Seperti yang dikatakan oleh Rene Dubost (1976), kedudukan manusia di alam merupakan hubungan antara dua komponen, yang saling mengisi, dan bersifat kontinyu sebagai suatu sistem. Narnun di sisi lain populasi manusia cenderung bertambah yang dapat menyebabkan kerusakan sistem itu. Oleh karenanya agar sistem tersebut tetap dalam keadaan seimbang, maka gangguan yang datangnya dari manusia harus diminimalkan.

Dalam Kitab Suci Al-qur’an, salah satu ayat menyebutkan: ” ……sesungguhnya yang patut dan pantas mewarisi bumi ini adalah hamba-hamba Ku yang saleh”. Selanjutnya dalam ayat yang lain dikatakan bahwa “Tuhan meninggikan deraiat sebagian dari manusia itu lebih daripada yang lain, dan justru untuk menguji apa yang diberikanNya kepada manusia itu”. Oleh karenanya di dalam mengelola alam untuk kesejahteraan dan kebahagiaan, bukan hanya berpegang pada pandangan yang “inclusive”, dimana manusia adalah sekedar bagian Yang tak terpisahkan dari komponen lain dalam sistem dimana ia berada. Kitapun tidak menganut faham “exclusifisme”, Yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak dari lingkungan, yang dapat menghaialkan untuk menimbulkan kerusakan lingkungan.

Seringkali manusia melupakan segi etika/moral dari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan. Secara moral adalah normal apabila lingkungan akan memberikan kepada manusia berbagai hal yang akan diketemukannya. bahkan manusia juga harus memberikan toleransi kepada kenyataan bahwa sewaktu-waktu dapat timbul malapetaka bagi kehidupan manusia. Seperti adanya banjir, gunung meletus, dan lain-lain. Jadi paling tidak kita harus menerima hal tersebut diatas dengan wajar. Dari segi etika manusia mempunyai kesalahan moral, apabila dampak dari kegiatan kita ini menimbulkan kerugian bagi orang lain. Jika manusia dapat berlaku adil dengan semua yang makhiuk hidup di alam ini, maka disini letak kebenaran norma moral yang baik, Dimana manfaat yang kita peroleh dari alam / lingkungan ini, harus juga memberikan manfaat kepada manusia lain.
Semula peranan lingkungan alam terhadap manusia adalah besar sekali. Seperti iklim dari keadaan lingkungan alam di kutub utara mempengaruhi peri kehidupan dan kelakuan manusia Eskimo yang berlainan sekali dengan manusia padang pasir yang hidup dan dibesarkan di gurun Sahara. Begitu pula manusia Indonesia di daerah Kering Nusa Tenggara Timur memiliki sistem nilai dan perikehidupan kemasyarakatan yang berlainan dengan manusia Indonesia di daerah basah Kalimantan Selatan.

Pengaruh keadaan lingkungan alam sangat mendalam terhadap diri manusia dan masyarakat. Sebaliknya manusia dan masyarakat mengembangkan sistem nilai yang sesuai dengan keadaan lingkungan. Di Indonesia Hutan dianggap angker ataupun mata air dipandang suci. Hal ini diterima tanpa mendalami sebab musababnya. Namun masuk akal jika dikaji secara rasional. Hutan angker ataupun mata air itu suci itu vital untuk memelihara keseimbangan lingkungan. Alam dengan scgala isinya diterima sebagaimana adanya. Manusia menyesuaikan pada hidupnya dengan irama yang ditentukan oleh lingkungan alam. Karena perubahan lingkungan alam berada diluar kendali tangan manusia, maka manusia memasrahkan diri kepada lingkungan. Hal inilah yang melahirkan suatu kebiasaan, tradisi dan hokum yang tidak tertulis, yang kemudian mengatur pergaulan hidup masyarakat.

Namun satu faktor dalam kehidupan masyarakat yaitu pertambahan jumlah manusia. Sehingga naluri manusia untuk mempertahankan diri (survival instinc) mendorong hasrat berkembang biak dan melangsungkan kehidupan. Kondisi ini dimungkinkan oleh akal dan kemaiiipuan berfikir manusia, yang akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keadaan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia mulai mencoba menundukkan lingkungan alam. Sikap pasrah kepada alam menjadi sikap mengendalikaii alam. Pola hidup yang semula mengikuti irama dan hukum alam, Kini ingin ditentukan oleh irama dan hukum masyarakat sendiri.

5.2. Antroposentrisme dan Biosentrisme

Dalam hubungan dengan alam semesta manusia bergerak dalam dua arah yang memusatkn dirinya pada pusat alam semesta mengeksploitasi demi kepentingan sendiri. Namun kadangkala manusia mengganggu bagian dari ekosistem. Dua pendekatan ini yang pernah dikembangkan oleh Arne Naess di Amerika.

Pendekatan pertama disebut “antroposentrisme” dan yang kedua adalah “antropomorfisme/ biosentrisme”. Manusia sepeti yang oleh Soeryono (1978) adalah sesuatu yang paling ajaib daripada keajaiban yang ada didunia. Dalam kedudukan di alam ini oleh Sang Pencipta, manusia ditempatkan pada kedudukan tertinggi daripaad mahuk hidup lainya. Agama Islam menempatkan manusia dengan sebutan khalifah di bumi yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk mengelola dan memakmurkan bumi beserta 1sinya yang pada gilirannya akan bermanfaat bagi kehidupan seluruh mahluk Allah pada umumnya.

A. Antroposentrisme

Secara etimologis Antroposentrisme tesusun dari dua kata bahasa Yunani yaitu “antropos” yang berarti manusia dan “centrum” yan gberati pusat. Antroposentrtisme dapat diartikan sebagai suatu meyakinkan bahwa manusia dan karya-karyanya adalah pusat dari alam sebagai realitas yang ada di luar manusia. Alam merupakan sesuatu yang asing bagi dirinya. Sehingga hal ini timbl suatu jarak moral antara diri manusia dengan dunianya. Moral atau nilai-nilai alam tergantung pada apa yang dipikirkan atau dipersepsikan manusia sebagai sesuatu yang menarik, indah, baik, benar dan sebagainya. Akibatnya manusia dapat saja memperlakukan dan menguasai kenyataan / realitas asing tersebut secara kasar atauhalus sesuai dengan kepentingan dan pandangan.

Antroposentirsme menjadikan manusia sebagai pusat segalanya dan diatas dari segala sesuatu dalam alam semesta. Maka itu segala sesuatu yang ada di dalam alam harus sedapat mungkin digunakan demi kebaikan dan kemakmuran manusia. Sedangkan bagaimana melestarikan dan memelihara lingkungan sekitar manusia boleh dikorbankan asal kebahagiaan dan kemakmuran tercapai. Namun pandangan filsafa barat tidak hanya tersebut diatas, beberapa tokoh lainnya memandang alam sebagai kosmos dimana manusia salah satu bagian di dalamnya.

B. Biosentrisme

Berasal dari babungan kata Yunani “bios” (hidup) dan kata latin “centrum” (pusat). Secara harafiah Biosentrisme diartikan sebagai suatu keyakinan bahwa kehidupan manusia crat hubungannya dengan kehidupan seluruh kosmos. Manusia dipandang sebagai salah satu organisms hidup dari alam semesta yang mempunyai rasa saling ketergantungan dengan penghuni alam semesta lainnya.

Dalam Biosentrisme, manusia tidak dipandang begitu agung dan berhak mutlak mengatur dan menguasai alam, namun hanya sebagai bagian alam semesta. Disini manusia terkena hukum-hukum alam, dan manusia dengan kemampuannya berusaha menandingi alam semesta yang ganas. Manusia dimengerti sebagai mahluk yang punya keterbatasan seperti hainya dengan mahkluk hidup lainnya. Manusia sangat tergantung pada lainnya, sehingga menjadi satu kesatuan dalam kosmos. Pandangan manusia terhadap alam semesta sedapat mungkin memahami bahkan mengagumi. Dalam pandangan Filsafat Timur yang diwakili Hinduisme alam menjadi sesuatu yang makrokosmos, dimana manusia hidup didalamnya sebagai mikrokosmos. Sedangkan pandangan Konfuisme, mengajak manusia kembali kepada alam semesta demi memperoleh kebahagiaan. Dalam aliran Zen di Jepang manusia berusatia moncari keheningan dalam alam dan menyatu dengan dirinya sendiri.

Dalam pandanganfilsafat lslam meletakkan pada etika / moral manusia terhadap alam, yakni mengajak manusia hidup dalam keseimbangan dengan alam dan sebagai makhluk bumi yang diberl mandat oleh Sang Pencipta untuk tetap memelihara dan menjaga bumi dari segala ancaman. Sikap memelihara dan menjaga bumi merupakan penerapan tanggung jawab manusia kepada Sang Pencipta alam dengan segala isinya.

Dalam sejarah perkembangan manusia jelas terlihat perbedaan cara pendekatan terhadap alam. Pada mulanya bisa dikatakan manusia sepenuhnya tergantung pada alam sekitarnya untuk hidup bahkan tidak jarang manusia terpaksa men akui keterbatasan, seperti misalnya terjadi gangguan-gangguan dari alam. Seolah-olah alam punya hukumnya sendiri yang tidak dimengerti oleh manusia. Namun lama kelamaan manusia karena manusia mempunyai intelegensi, maka manusia mengambil jarak dari alam dan mempelajari alam semesta ini. Sehingga lambat laun alam mulai dikenal manusia dan kemudian dimanfaatkan demi kelestariannya.

5.3. Lingkungan Hidup alami, Lingkungan Binaan / Buatan dan Lingkungan Sosial

Pada waktu manusia diciptakan oteh Maha Pencipta sebagai satu diantara, makhluk hidup lainnya dialam ini, maka habitat hidupnya masih bersifat alamiah, sama dengan makhluk hiduplainnya. Seturuh interaksi masih diatur oleh proses-proses homeostasis sehingga berbagai kegiatan manusia dalam mendinamisasi keseimbangan alam masih dapat diabsorbsi oleh sistem kelentingan yang ‘fail-safe”. Pada saat itu seluruh kehidupan berlangsung secara seimbang dalam habitat alamiah. Seluruh jenis makhluk hidup dari dulu sampai saat ini selalu membina hubungan yang sangat erat dengan habitat (tempat tinggal). bahkan dengan relungnya (tempat berfungsinya). Seperti misalnya habitat ikan adalah air, yang dengan insang untuk bernafas dan sirip untuk bergerak, dan hubungannya dengan air sangat erat, dan bila dipisahkan dengan air maka ikan akan mati.

Oleh karena itu apabila habitatnya rusak (baik karena alam maupun oleh manusia), maka punahlah makhluk hidup itu. Sebaliknya secara fisik manusia adalah jenis makhiuk liidup yang paling lemah dan paling labil hubungannya dcngan lingkungan. Namun topangan kemampuan berpikir manusia inilah yang memberl kebebasan untuk menentukan berbagai pilihan terhadap lingkungan. Sehingga terciptalah oleh akal pikiran manusia habitat dan relung yang bersifat buatan (man-made habitat). Jadi dari kehidupan yang bermula di gua-gua, manusia mencatat sejarah sebagai pengubah habitatnya secara drastis dengan habitat pencakar langit , terowongan dibawah laut, satelit diangkasa luar dan seterusnya.
Sehingga keadaan ini ditinjau dari sudut lingkungan, kebudayaan manusia adalah latar belakang dan perwujudan dari upayanya untuk mengubah lingkungan alam (ekosistem) menjadi lingkungan-lingkungan buatan atau binaan manusia. Kehadiran lingkutigan hidup buatan ini mematahkan keseimbangan, keselarasan, dan kelestarian, yang semulanya terdapat dalam lingkungan alam. Hukum yang terdapat di alam mulai terganggu, yang menghilangkan hakekat pokok kehidupan yang saling tergantung, dan terikat.

Sementara itu dalam tata pergaulan sesamanya, manusia juga mengembangkan tatanan dan norma-norma sosial yang turut menentukan tingkah laku dan kegiatan manusia secara keseluruhan. Sehingga terciptalah lingkungan hidup sosial dalam lingkungan hidup manusia. Bagaimana hubungan dan keterkaitan antara lingkungan hidup alami, lingkungan hidup binaan / buatan, dan lingkungan hidup sosial dalam lingkungan manusia.

Manusia memang punya hak asasi manusia (human right), yang berhak untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Namun kehendaknya itu bukan tidak ada batasnya, sebab manusia adalah bagian dari alam, dan tunduk pula pada hukum alam. Sedang alam mempunyai hak supra-alami (supra right of nature), yang harus kita tempatkan lebih tinggi diatas hak asasi manusia, apabila kehidupan dan kesejahteraan manusia memang akan diupayakan untuk berlangsung secara baik, sehat dan berlanjut. Kebudayaan manusia masih terus dapat merubah wajah dan perwujudan bumi ini sejauh yang dimungkinkan oleh dukungan lingkungan hidup alami dan lingkungan hidup sosial. Ini berarti bahwa segala kegiatan manusia / pembangunan, harus juga tetap menjaga tatanan sosialnya agar tetap memberikan peluang kesempatan pemerataan perolehan dalam tatanan lingkungan hidup.

Diskusi / Pertanyaan :
1. Gambarkan dalam suatu lingkungan hidup yang merupakan kesatuan yang selaras dan seimbang.
2. Jelaskan bagaimana manusia harus bersikap imanen sebagai bagian terpadu dari lingkungan.
3. Jelaskan pula bagaimana manusia harus bersikap transenden dalam tanggung jawabnya terhadap lingkungan.
4. Uraikan peiigelolaan Iingkungan yang ditujukan kepada diri manusia agar perubahan kualitas lingkungan (sumber daya) masih dalam ambang batas yang disepakati.

Referensi:
1. Levine. N.D. (ed), 1975. “Human Ecology” Duxbury Press, Mass. USA.
2. Soerjani. M. 1983. “Ekologi Manusia“, PPSML – UI, Jakarta.
3. Zein. M.T. (ed), 1979, “Menuju, Kelestarian Lingkungan Hidup” Gramedia, Jakarta.

%d blogger menyukai ini: